BeritaGaya HidupHeadlineNasional

Isran Noor, Gubernur Kaltim Bicara Soal Ibu Kota Negara di Kampus UI Salemba

Kuliah Umum Gubernur Kaltim Isran Noor di Universitas Indonesia

Sinergitas.id-Kuliah Umum Dr. Isran Noor Gubernur Kalimantan Timur di Kampus UI Salemba, Rabu, (07/04/2021) lalu masih bergema hingga saat ini. Presentasinya tentang Ibukota Negara di Kaltim sungguh membuka wawasan akademia. Hampir 1000 peserta, baik secara Zoom, youtube, google dan offlune, mengikuti acara kuliah umum yang diselenggarakan ILUNI Sekolah Pascasarjana UI bersama Sekolah Ilmu Lingkungan dan Sekolah Kajian Stratejik dan Global. Di antara peserta yang ikut hadir via Zoom adalah Guru Besar emeritius Prof. Dr. Emil Salim yang memberikan tanggapan bahwa pemindahan Ibukota Negara belum prioritas saat ini. Namun Isran Noor menjawab bahwa anggaran negara hanya 20 persen dari total nilai yang dibutuhkan sedangkan 80 persen dari partisipasi investor luar negeri.

Kuliah umum ini dihadiri oleh Rektor UI Prof. Ari Kuncoro, S.E., M.A., Ph.D., Ketua Majelis Wali Amanat UI Saleh Husin, M.Si., Ketua Umum Ikatan Alumni (ILUNI) UI Andre Rahadian, Direktur SIL Dr. dr. Tri Edhi Budhi Soesilo, M.Si, Direktur SKSG Athor Subroto, S.E., M.M., M.Sc., Ph.D, Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Provinsi Kaltim Prof. Dr. Ir. H. M. Aswin, M.M., Ketua ILUNI SIL dan SKSG, Sekretaris Universitas, dan para wakil rektor. Turut hadir secara daring Prof. Emil Salim yaitu Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis UI yang memiliki kepakaran di bidang lingkungan hidup.

Dalam kesempatan tersebut Gubernur Kaltim, Isran Noor menyampaikan kuliah dan menjawab pertanyaan beberapa ahli terkait dampak kerusakan saat pembangunan Ibu Kota Negara nanti. Perlu diketahui, Ibu Kota Negara nanti berada di Kabupaten Penajam Paser Utara dan sebagian di Kabupaten Kutai Kartanegara, Provinsi Kalimantan Timur. Menurutnya hal tersebut tidak dapat dipungkiri lagi. Mantan Bupati Kutai Timur ini menjelaskan semua pembangunan pasti akan merusak lingkungan

“Yang pasti merusak tanam tanaman rumput yang diinjak mati itu pasti dah. Tidak Ada sebuah program yang tidak ada pengorbanan. Tapi bagaimana kompensasi rehabilitasi mengembalikan suasana lingkungan. Pasti rusak pohon apa? Rumput yang diinjak,” ujarnya.

Untuk itu agar mengurangi dampak kerusakan pembangunan ini ia meminta agar konsep pembangunan kedepannya mengurangi penggunaan energi fosil.

Justru ia berharap seluruh infrastruktur itu menggunakan listrik non energi fosil. Bahkan informasi yang ia dapat, beberapa negara maju seperti Tiongkok, UEA, dan jepang ingin investasi di kawasan Ibu Kota Negara.

“Mereka ingin melakukan, pembiayaan, tapi kan tidak mungkin, ada undang-undannya, jadi pemerintah menyediakan dana 20 persen. Kenapa mereka mau ivestasi? karena mereka punya tabungan kalau mereka bisnis di Indonesia,” ucap Isran Noor.

Bahkan dengan ditunjuk Kaltim dalam program Forest Carbon Partnership Facility (FCPF) oleh Bank Dunia menjadi modal awal dalam mengurangi emisi karbon. Dengan program tersebut diperkirakan Kaltim mendapatkan Dana 120 juta USD sebagai bentuk kompensasi mengurangi emisi karbon.”Makanya Ibu Kota Negara Wajib identik dengan menjaga lingkungan,” tutur Isran Noor.

Lebih lanjut Isran menyampaikan bahwa pemindahan Ibu Kota Negara (IKN) ke Kaltim mendorong tumbuhnya beberapa sektor ekonomi potensial seperti sektor pertanian, sektor industri hilir perkebunan, migas, batu bara dan manufaktur, sektor jasa dan perdagangan, sektor konstruksi dan transportasi, sektor pariwisata (terutama wisata alam, budaya, dan bahari), dan sektor industri kreatif dan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).

“Adapun rencana pembangunan IKN di Kaltim tertuang dalam Perpres No. 18 tahun 2020 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020-2024. Pada tahun 2020-2024 tahapan pembangunan yang dilakukan adalah pengadaan lahan untuk akses jalan dan sarana prasarana; pembangunan infrastruktur dasar seperti air minum, pengolahan limbah terpadu, persampahan, dan drainase; penyediaan jaringan listrik dan telekomunikasi; rehabilitasi hutan dan lahan, dan lainnya,” ujarnya.

Isran yakin pemindahan IKN memiliki potensi integrasi ekonomi pada Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI) II yaitu yang melintasi Laut Sulawesi, Selat Makassar, Laut Flores, dan Selat Lombok. Menurutnya, ALKI II diharapkan sebagai alternatif gerbang masuk utama menuju Ibukota Negara Indonesia, pusat kegiatan nasional dan wilayah, serta dapat menggerakkan ekonomi di kawasan Timur. Berdasarkan hasil kajian yang telah dilaksanakan oleh Bappenas, pemindahan IKN akan berdampak positif pada pertumbuhan investasi riil, pertumbuhan investasi, dan peningkatan kesempatan kerja. Diproyeksikan hadirnya IKN meningkatkan investasi riil 47.7% di Kaltim, 34.5% di pulau Kalimantan, dan 4.7% di Indonesia.

Di akhir pemaparan, Isran menyampaikan harapannya menjadikan Kaltim sebagai Ibukota NKRI baru yang modern melalui konsep Smart City dan Forest City, serta menjadikannya sebagai simbol identitas bangsa dan negara Indonesia. Ia juga berharap IKN dapat meningkatkan kehidupan sosial-budaya seluruh masyarakat pulau Kalimantan agar mampu bersaing dalam tuntutan modernisasi sebuah ibukota negara dengan tetap menjaga nilai-nilai kearifan lokal.

Sementara itu Rektor UI, Prof. Ari Kuncoro, Ph.D, mengatakan dalam sambutannya bahwa pemindahan Ibukota Negara ke Kaltim sudah tepat dan UI sejak awal sangat berperan dalam persiapan pemindahan IKN ke Kaltim.
Isran Noor sebagai Gubernur Kaltim berterima kasih kepada pihak UI yang telah memberikan kesempatan kepadanya untuk menjafi Dosen tamu pada Kuliah Umum kali ini. Kepada wartawan secara khusus Isran Noor bergurau bahwa ia sudah lama bersahabat dengan Ketua ILUNI Sekolah Pascasarjana UI, Dr. Audrey Tangkudung. (*)

Tags
Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button